Minggu, 02 Oktober 2016

Refleksi Kepemimpinan


Naturalisasi Bukan Pencitraan ala Nabi Sulaiman[1]
oleh : Pak RT Ragil Tugiman

Coba perhatikan respon natural Nabi Sulaiman terhadap perintah ratu semut pada rakyatnya bagaimana yang tertuang dalam Al Quran Surat An-Naml surat ke 27 ayat 18 “ maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu….”
 Fenomena ini adalah reaksi refleks seorang pemimpin yang tidak membutuhkan pencitraan. Dia tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban. Bisa kita bayangkan ketika Armada besar Nabi Sulaiman itu turun ke lapangan untuk melihat kondisi rakyatnya (blusukan),  sehingga tiba di lembah semut tiba-tiba Nabi Sulaiman menghentikan perjalanan, lalu dia perhatikan dialog ratu semut dengan kaumnya bisa diduga banyak orang tertegun memperhatikan perilaku Nabi Sulaiman yang mengamati interaksi binatang kecil itu lalu tiba-tiba dia tersenyum tentu tertawa hanya satu orang dan yang lain bertanya-tanya, pemimpinnya tertawa lepas. Lalu Sulaiman pun berdoa “Ya Robbku Limpahkanlah kepadaku untuk mensyukuri kenikmatan yang telah engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku beramal sholeh yang engkau ridhoi dan masukkanlah aku atas Rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.” (QS.  An-Naml (27):19)
 Naturalisasi ini penting bagi seorang pemimpin. Dia tampil menjadi pemimpin apa adanya dan sangat menikmati keunikan dirinya dan tidak terbebani oleh penilaian orang lain atau bawahannya. Ia tampil sebagai orang yang bersyukur atas keunikan yang diberikan Allah kepadanya. Karena itu, ongkos naturalisasi ini jauh lebih murah ketimbang imagologi atau pencitraan yang zaman sekarang begitu masif dilakukan oleh para pemimpin yang tidak sejati. Kesejatian kepemimpinan terletak pada keasliannya yang natural bukan imagologi atau image yang dipaksakan pada kepala orang-orang lain. Kesejatian itu murah sedangkan pencitraan itu mahal dan dramatis.  Para pemimpin sejati tampil sebagai manusia seutuhnya, Sedangkan para pemimpin rekaan tampil kaku dan penuh pertimbangan atas penilaian orang lain. Kesejatianlah yang kelak akan didukung orang dan pencitraan akan ditinggalkan karena kesejatian lawannya adalah Kepalsuan. Pemimpin yang sejati sangat memahami arti kekuasaan sesungguhnya, kekuasaan untuk kesejahteraan rakyatnya sedangkan pemimpin yang palsu yang menganggap dirinya berkuasa tapi sesungguhnya dia telah disetir oleh para industri imagologi, para cukong, para pengusaha dan oknum tertentu yang mencari sejatinya sedang mencari keuntungan sepihak sehingga kesejahteraan itu mengalir di sekitar kekuasaan dan tidak sampai pada rakyatnya, sementara yang sampai pada rakyat adalah image bukan sejahteraan yang sejati.
Di sisi lain ayat tentang tersenyum dan tertawa ini menarik jika dielaborasi lebih lanjut. Sesungguhnya ekspresi senyum dan tertawa adalah fungsi dari aktivitas otak kanan. Didalam banyak pelatihan, salah satu teknik memfungsikan otak kanan adalah dengan tersenyum dan tertawa, otak kanan memiliki peran yang lebih ringan, kreatif , inovatif ketimbang otak kiri yang berat-berat, matematik, analitik dan lain-lain. Menjadi pemimpin Quantum harus bisa mengkombinasikankan kecerdasan yang dimiliki oleh otak kiri dan otak kanan sekaligus dan tidak salah satunya alias harus keduanya berjalan beriringan, memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing belahan.



[1] Di sadur dari buku karya Rijalul Imam, S. Hum, M.Si dalam Quantum Leadership OF KING SULAIMAN