Naturalisasi Bukan Pencitraan ala Nabi
Sulaiman[1]
oleh : Pak RT Ragil Tugiman
Coba perhatikan respon natural Nabi Sulaiman
terhadap perintah ratu semut pada rakyatnya bagaimana yang tertuang dalam Al
Quran Surat An-Naml surat ke 27 ayat 18 “ maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan
tertawa karena mendengar perkataan semut itu….”
Fenomena
ini adalah reaksi refleks seorang pemimpin yang tidak membutuhkan pencitraan. Dia
tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban. Bisa kita bayangkan ketika Armada
besar Nabi Sulaiman itu turun ke lapangan untuk melihat kondisi rakyatnya
(blusukan), sehingga tiba di lembah
semut tiba-tiba Nabi Sulaiman menghentikan perjalanan, lalu dia perhatikan
dialog ratu semut dengan kaumnya bisa diduga banyak orang tertegun
memperhatikan perilaku Nabi Sulaiman yang mengamati interaksi binatang kecil
itu lalu tiba-tiba dia tersenyum tentu tertawa hanya satu orang dan yang lain
bertanya-tanya, pemimpinnya tertawa lepas. Lalu Sulaiman pun berdoa “Ya Robbku
Limpahkanlah kepadaku untuk mensyukuri kenikmatan yang telah engkau limpahkan
kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku beramal sholeh yang engkau ridhoi
dan masukkanlah aku atas Rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.”
(QS. An-Naml (27):19)
Naturalisasi
ini penting bagi seorang pemimpin. Dia tampil menjadi pemimpin apa adanya dan
sangat menikmati keunikan dirinya dan tidak terbebani oleh penilaian orang lain
atau bawahannya. Ia tampil sebagai orang yang bersyukur atas keunikan yang
diberikan Allah kepadanya. Karena itu, ongkos naturalisasi ini jauh lebih murah
ketimbang imagologi atau pencitraan yang zaman sekarang begitu masif dilakukan
oleh para pemimpin yang tidak sejati. Kesejatian kepemimpinan terletak pada
keasliannya yang natural bukan imagologi atau image yang dipaksakan pada kepala
orang-orang lain. Kesejatian itu murah sedangkan pencitraan itu mahal dan
dramatis. Para pemimpin sejati tampil sebagai
manusia seutuhnya, Sedangkan para pemimpin rekaan tampil kaku dan penuh pertimbangan
atas penilaian orang lain. Kesejatianlah yang kelak akan didukung orang dan
pencitraan akan ditinggalkan karena kesejatian lawannya adalah Kepalsuan. Pemimpin
yang sejati sangat memahami arti kekuasaan sesungguhnya, kekuasaan untuk
kesejahteraan rakyatnya sedangkan pemimpin yang palsu yang menganggap dirinya
berkuasa tapi sesungguhnya dia telah disetir oleh para industri imagologi, para
cukong, para pengusaha dan oknum tertentu yang mencari sejatinya sedang mencari
keuntungan sepihak sehingga kesejahteraan itu mengalir di sekitar kekuasaan dan
tidak sampai pada rakyatnya, sementara yang sampai pada rakyat adalah image
bukan sejahteraan yang sejati.
Di sisi lain ayat tentang tersenyum dan
tertawa ini menarik jika dielaborasi lebih lanjut. Sesungguhnya ekspresi senyum
dan tertawa adalah fungsi dari aktivitas otak kanan. Didalam banyak pelatihan,
salah satu teknik memfungsikan otak kanan adalah dengan tersenyum dan tertawa, otak
kanan memiliki peran yang lebih ringan, kreatif , inovatif ketimbang otak kiri
yang berat-berat, matematik, analitik dan lain-lain. Menjadi pemimpin Quantum
harus bisa mengkombinasikankan kecerdasan yang dimiliki oleh otak kiri dan otak
kanan sekaligus dan tidak salah satunya alias harus keduanya berjalan
beriringan, memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing belahan.