Selasa, 09 Februari 2010

Islam dan IPTEK

Tahukah Anda apa perintah Tuhan yang pertama kali kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad? Perintah itu diulangi oleh Jibril Sang Pembawa Perintah sampai 3 (tiga) kali karena begitu pentingya. Ya, Anda benar. Perintah tersebut adalah untuk MEMBACA. Seandainya saja umat Islam melaksanakan perintah Tuhan yang begitu penting ini maka sebenarnya umat Islam adalah umat yang paling literate, atau yang paling melek huruf dan yang paling berilmu dibandingkan umat-umat lain.Ajaran Islam penuh dengan anjuran untuk belajar…belajar… dan belajar dan berpikir…berpikir…berpikir. Bahkan dalam suasana perang dimana dibutuhkan semua tenaga laki-laki yang sehat untuk ikut berperang Rasulullah masih juga menyatakan agar tidak semua orang ikut berperang tapi ada sebagian orang BELAJAR memperdalam ilmu. Bahkan Rasulullah yang tidak pernah pergi ke Cina menyatakan dalam hadistnya yang tersohor (meski ada yang menganggapnya sebagai hadist yang lemah) agar umatnya menuntut ilmu sampai ke China. Belajar sebenarnya merupakan NAFAS dari ajaran Islam.Lantas mengapa saat ini justru umat Islam adalah umat yang terkebelakang, miskin, dan tak berilmu? Karena mereka hanya mengaku sebagai umat Islam tapi tidak melaksanakan perintah pertama Tuhan tersebut dan tidak paham dengan anjuran Rasulnya.Coba perhatikan, berapa banyak umat Islam yang menjadikan MEMBACA sebagai aktivitas sehari-hari yang harus diperlakukan sebagai IBADAH sebagaimana kita memperlakukan SHOLAT, ZAKAT, DZIKIR, dll? Membaca tidak pernah dianggap sebagai suatu IBADAH. Membaca bahkan tidak dianggap sebagai PERINTAH atau AJARAN Islam. Ironis sekali.Coba perhatikan negara kita. Berapa banyak kota besar di Indonesia yang memiliki perpustakaan besar dan modern yang merupakan cirri sebuah kota modern? Tidak banyak. Bahkan Jakarta sebagai ibukota negara dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta orang perpustakaannya tidak mencerminkan sebagai perpustakaan sebuah negara besar. Perpustakaan Kota Kinabalu di Malaysia jauh lebih besar, modern dan lengkap koleksinya. Jumlah kunjungan ke perpustakaan pusat di Jakarta hanya dikunjungi oleh rata-rata 200 orang sehari dan hanya 20% yang meminjam buku. Ini artinya MASYARAKAT KITA TIDAK MEMBACA.Sekarang coba perhatikan apa yang terjadi di sekolah-sekolah kita. Berapa banyak sekolah yang punya perpustakaan? Dari 250.000 sekolah yang ada di Indonesia mungkin hanya 5 % yang punya perpustakaan yang layak disebut sebagai perpustakaan. Dari yang punya perpustakaan, berapa banyak yang punya buku-buku bacaan selain buku paket? Dari sedikit sekolah yang punya perpustakaan dan buku-buku bacaan, berapa banyak yang punya program rutin MEMBACA di kelas? Hampir tidak ada. Ini artinya ANAK-ANAK KITA TIDAK MEMBACA DI SEKOLAH. Lantas bagaimana kita bisa mengaku sebagai umat Islam terbesar di dunia tapi tidak melaksanakan perintah Tuhan yang pertama tersebut?Untuk menjadi bangsa yang ‘literate’ idealnya 1 koran dibaca 10 orang tapi di Indonesia 1 koran dibaca oleh 45 orang. Kita bahkan kalah dengan Srilanka dimana 1 koran dibaca oleh 38 orang dan di Filipina 1 koran dibaca oleh 30 orang.Sekarang coba perhatikan apa yang terjadi di rumah-rumah kita. Berapa banyak keluarga muslim yang telah menjadikan MEMBACA sebagai kegiatan IBADAH yang sama pentingnya dengan sholat, mengaji, sedekah, puasa, dll.di rumah-rumah mereka? Sekarang kegiatan utama keluarga muslim di rumah adalah menonton TV, dan bukannya membaca seperti yang diperintahkan oleh Allah. Budaya menonton telah membius keluarga kita. Statistik menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dipakai oleh anak-anak Indonesia menonton TV adalah 300 menit/hari. Bandingkan dengan anak-anak di Australia 150 mnt/hari, Amerika 100 mnt/hari, dan Kanada 60 mnt/hari.Apa akibatnya jika bangsa kita tidak membaca? Kemunduran dan kemerosotan tentu saja. Berdasarkan hasil studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to Recovery“ tahun 1998, menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya 51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1) dan Filipina (52,6). Hasil studi ini membuktikan kepada kita bahwa membaca belum –kalau tidak mau dikatakan bukan– menjadi program yang integral dengan kurikulum sekolah. Apalagi menjadi budaya.Hal ini juga bisa dilihat dari berbagai statistik tentang negara kita. Dalam world Competitiveness Scoreboard 2005 Indonesia hanya menduduki peringkat 59 dari 60 negara yang diteliti. Padalah Malaysia sudah berada di perinkat 28 dan India 39. Hal ini juga bisa dilihat dari catatan Human Development Index (HDI) kita yang terus merosot dari peringkat 104 (1995), ke 109 (2000), 110 (2002, dan 112 (2003). Belum cukupkah semua ini membuat kita sadar bahwa ada yang salah dari sistem pendidikan kita yang tidak memberi perhatian besar pada kegiatan membaca yang merupakan inti dari pendidikan?Menurut para ahli, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup (itu sebabnya Allah menjadikannya sebagai Perintah Pertama, First Commandment, bagi umat Islam). Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Farr (1984) menyebutkan "Reading is the heart of education". Seharusnya dalam Islam membudayakan membaca adalah sebuah ‘fardhu kifayah’ atau ‘social responsibility’ yang apabila tidak dilakukan akan menjadi dosa bersama. Berdasarkan penelitian Baldridge (1987), manusia modern dituntut untuk membaca tidak kurang dari 840.000 kata per minggu. Kurang dari itu dianggap belum modern tentunya. Bayangkan jika umat Islam sama sekali tidak punya kegiatan membaca baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan.. Umat Islam jelas akan menjadi umat yang paling tertinggal dibandingkan umat-umat lain. Dan itu telah terjadi saat ini. Padahal Tuhan telah memerintahkan mereka untuk MEMBACA sejak pertama kali. Tak heran jika daya saing siswa dan bangsa kita selalu terpuruk karena kerampilan dasar bagi Hal lain yang menyebabkan umat Islam mundur dan terkebelakang adalah karena ketidakmampuannya dalam menerjemahkan anjuran Rasul untuk belajar meski ke negeri China. Banyak umat Islam fanatik yang menganggap belajar pada umat non-muslim adalah terlarang dan buruk bagi umat Islam. Padahal jelas-jelas bahwa Rasul tidak menyatakan demikian.Sebuah SDIT yang maju dan dikelola oleh para muslim kelas menengah dan rata-rata sarjana juga menolak ide untuk mengangkat seorang guru native speaker bahasa Inggris untuk mengajar bahasa Inggris di sekolah tersebut dengan alasan bahwa mengangkat guru non-muslim untuk mengajar mata pelajaran apa pun di sekolah Islam adalah ‘tidak sesuai’ dengan ajaran Islam! Anehnya, di luaran mereka mengursuskan anak-anak mereka di kursus yang ada native speakernya!Belajar dari non-muslim bukan hanya boleh tapi bahkan DIANJURKAN. Siapa yang mengatakan demikian? Ya, Rasul sendiri. Jadi sebetulnya belajar Matematika, Fisika, bahasa Inggris, dll. pada guru non-muslim itu (meski sekolahnya adalah pesantren) adalah sesuai dengan semangat pendidikan dalam Islam yang diajarkan oleh Rasul sendiri. Yang absurd adalah jika memanggil guru non-muslim untuk mengajarkan mengaji, tata-cara sholat, dasar-dasar iman, dan sejenisnya kepada siswa-siswa Islam. Melalui tulisan ini saya hendak kembali mensosialisasikan dan menggemakan kembali perintah tuhan kepada Rasulullah Muhammad SAW agar kita pahami dan amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Mari kita membaca setiap hari dan mari kita wajibkan anak-anak kita untuk membaca setiap hari sebagaimana kita memerintahkan mereka melakukan sholat lima waktu.Bangsa kita telah gagal menjadikan membaca sebagai budaya sebagaimana bangsa-bangsa maju lainnya. Dan ini merupakan ancaman yang serius. Ini sudah merupakan ‘global threat’. Rendahnya Reading Literacy bangsa kita saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya saing bangsa dalam persaingan global. Hal ini akan menyebabkan tidak kompetitifnya SDM bangsa kita karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini adalah akibat lemahnya minat dan kemampuan membaca.Jika kita mau melihat kebelakang pada masa Krisis Moneter Juli 1997 yang lalu. Korea Selatan, Thailand, Malaysia dan Singapura, mampu mengatasi krisis ekonomi bangsanya relatif dalam waktu pendek hanya sekitar 2 – 3 tahun saja. Hal ini disebabkan karena mereka telah mempunyai SDM yang kompetitif, unggul, kreatif, dan siap menghadapi segala bentuk perubahan sosial, ekonomi, politik, budaya dan lainnya. Bangsa Indonesia sampai saat ini belum juga bisa bangkit.Apa sebab bangsa kita tidak mampu menguasai ilmu dan teknologi yang akan dapat membuat bangsa kita kompetitif, unggul dan kreatif? Itu karena Membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita barulah kita bisa menapak ke tingkat yang lebih tinggi yaitu menjadi bangsa yang terpelajar, berilmu, kompetitif dan kreatif.Mengapa hal ini saya anggap sebagai ancaman global yang sangat kritis? Karena untuk mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar 1 atau 2 generasi, tergantung dari “political will pemerintah dan masyarakat“ Ada pun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15 – 25 tahun. Apakah kita punya keinginan untuk berubah dan waktu untuk itu? Jika kita gagal menjawab tantangan ini maka bangsa kita akan terus terpuruk menjadi negara dunia ketiga yang tidak akan mampu untuk bangkit.Hanya satu tekad yang perlu kita canangkan pada diri kita yaitu : Membaca atau mati!

Kamis, 28 Januari 2010

guru ku.....

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, danjuga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikanpelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagianak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapatmenjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatantersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy(sindroma gangguan otak belakang).
Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelaskhusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuahkelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anakdisana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anakberusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.
Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susunbentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakankepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedangmenyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagiananak yang beradu dengan lantai.
Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihatseorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnyakepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugasmereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami CerebralPalsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannyamelonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengankepandaiannya menyusun huruf.
Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Diatergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantumenyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangansaya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasadamai dan hangat.
Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anakdisana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak merekatersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.
Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelahmembereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiapanak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.
Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihatmata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibandingdengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menujupintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.Ddduh, ada apa ini?
Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambilberkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat sayamelambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi rodamereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuksekedar mencium tangan saya.
Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak kesamping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diamsaya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikatkecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Sayabiarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Banggakepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaanyang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, jugapendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebabmereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.
Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahayakebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancarpendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didikmereka.
Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajarlamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajarmengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentangbanyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kitamenyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?
Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yangberbeda disana. Cobalah. Rasakan.

Guru dan Toilet Jiwa

GURU DAN “TOILET JIWA”
(SEBUAH REFLEKSI MENGATASI KEBOSANAN GURU DALAM MENGAJAR)
Oleh : Ragil Tugiman, S.Pd
Guru BPPK Kota Administrasi Jakarta Timur
Penulis dapat di hubungi melalui email :rt.semangatselalu@gmail.com

Siapa pun pasti pernah mengalami rasa bosan dan jenuh dengan pekerjaan, termasuk guru dalam mengajar. Entah mereka sudah bertahun-tahun bekerja menjadi guru atau baru saja masuk ke dalam dunia guru sebagai pendidik dan pengajar.
Ada banyak hal yang menyebabkan guru bosan dengan pekerjaannya sebagai agen perubah manusia (transformation knwoladge dan attitude). Hal ini bisa dikarenakan monoton, lingkungan kerja yang tidak kondusif, rekan kerja yang menyebalkan, materi yang tidak sesuai dengan kompetensinya, beban mata diklat yang banyak, atau ada masalah pribadi. Lalu terpikirlah, betapa menyenangkan kalau bekerja di tempat sekolah lain.
Tapi, berpindah pekerjaan atau sekolah untuk mengajar bukanlah hal yang gampang. Selain itu belum tentu di tempat yang baru kita akan bebas dari persoalan yang menyebabkan kebosanan dan kejenuhan. Bisa jadi keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.
Nah, meski bosan sedang melanda, Anda harus bersyukur bisa memperoleh pekerjaan apalagi ini adalah mendidik seorang anak manusia, yang nantinya akan menjadi tabungan sedekah kebaikan kita di hadapan Allah SWT, jika kita mengajar dengan baik. Tentunya. Apalagi saat ini pemerintah telah menaruh perhatian penuh bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Jadi, lawanlah kebosanan itu dengan kiat-kiat sebagai berikut :
1. Bersikap antusias dalam mengajar.
Bersikap antusias dalam memberikan materi pelajaran di kelas, bisa dilakukan dengan cara kita mengajar "seolah-olah menikmatinya", sehingga pada waktunya kita benar-benar menikmati pekerjaan tersebut. Hanya saja, kadang kita tidak bisa menikmati karena pekerjaan itu memerlukan waktu lama dan jam kerjanya ketat. Ada cara sederhana untuk mengatasinya, semisal dengan tersenyum atau berdiri tegap ketika merasa lelah.
Juga perlu diingat bahwa kita bukanlah robot. Hanya saja, ketika mengajar di depan kelas pusatkan perhatian sepenuhnya pada materi yang sedang kita ajarkan. Istirahat dan liburan memang perlu, tapi jangan dipikir ketika sedang bekerja.
2. Lakukan yang terbaik dalam mengajar.
Meski mengajar pada materi yang tidak menarik, kita harus melakukan yang terbaik. Mengapa? Karena jika kita bekerja asal-asalan maka pekerjaan akan bertumpuk. Kalau sudah begitu, kita semakin terbebani dan ada kemungkinan melakukan kesalahan. Salah berarti kita harus bekerja dua kali atau lebih, sehingga kita menjadi jengkel yang bisa-bisa bermuara ke stres.
Menurut buku The Joy of Working, pekerjaan yang diselesaikan dengan baik akan menghasilkan kepuasan batin. Untuk memperbaiki mutu mengajar, kita bisa menetapkan standar dan tujuan baru agar bisa mengungguli diri kita sendiri.
3. Memperindah pekerjaan kita.
Biasanya pekerjaan yang kita terima dari atasan disertai dengan rangka berisi aturan dan pedoman. Jika kita melakukan pekerjaan tersebut sesuai juklak, maka tidak ada sentuhan pribadi kita pada pekerjaan tersebut. Adanya sentuhan pribadi akan membuat pekerjaan jauh lebih menarik. Karena bersifat pribadi, maka tidak ada aturan baku untuk hal itu. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memperindah sesuatu. Misalnya, agar bisa menikmati pekerjaannya, seorang pelayan senang menghapal pesanan pelanggan tetap, sementara yang seorang mungkin bersikap lebih baik dan sopan.
4. Teruslah belajar.
Menurut buku Tension Turnaround, otak meningkatkan kapasitasnya untuk memproses informasi seiring dengan pertumbuhan kita. Untuk itu kita harus memuaskan keinginan otak kita akan informasi baru dengan mempelajari hal-hal baru. Dengan belajar, guru akan sangat terbantu dalam membuat dan menyajikan serta mempersiapkan materi menjadi lebih menarik dan memuaskan. Hal itu karena belajar bisa meningkatkan rasa percaya diri dan kesanggupan guru serta mempengaruhi sikap secara umum terhadap kehidupan.
Banyak hal yang bisa guru pelajari, terutama yang tidak secara langsung berhubungan dengan lingkup mengajar. Misalnya hubungan antar manusia, tentang peralatan dan perangkat mengajar, cara menulis modul atau utility mengajar yang lebih baik, menguasai kelas yang lebih efektif, atau cara yang lebih baik dalam berurusan dengan atasan baik kepala sekolah ataupun orang tua wali siswa. Untuk mempelajari hal itu mungkin sekolah sebagai tempat kita bekerja harus memiliki anggaran khusus untuk pelatihan semacam itu. Jika tidak, mengapa kita tidak memanfaatkan perpustakaan yang ada di sekolah? Bisa jadi ada buku-buku yang kita butuhkan.
Belajar juga bisa melalui pengalaman orang lain. Kita bisa mengamati rekan sekerja mengenai kekuatan dan kelemahan yang bisa kita jadikan bahan pelajaran. Bahkan dengan belajar dari kesalahan atau keberhasilan kita sendiri, kemudian menganalisisnya sehingga bisa melakukan hal-hal yang tepat di kemudian hari. Dengan melakukan hal ini, kita bisa memperoleh pelajaran yang tidak mungkin bisa kita dapatkan di sekolah ataupun dengan membaca.
Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan dalam memerangi rasa bosan terhadap pekerjaan kita sebagai guru. Singkirkan pikiran negatif yang bisa membuat liburan kita terbebani oleh pekerjaan. Jangan memikirkan kegagalan di masa lalu sembari mencemaskan pendapat orang tentang diri kita. Berikan perhatian penuh pada materi yang kita ajarkan, akan menjadi asyik dengannya, dan melakukan upaya yang terbaik sehingga kita bisa merasakan suatu kegembiraan karena telah menyelesaikan materi pelajaran kita.
Pernahkah anda dilanda suatu rasa bosan yang teramat sangat ?Bosan sama makanan yang itu-itu saja. Bosan pergi ke tempat yang itu-itu saja. Bosan dengan pekerjaan yang begitu-begitu saja dan gaji yang juga segitu-segitu saja. Bosan karena selalu mendengarkan curhatan yang itu-itu saja. Bosan sama pasangan ? Atau paling buruk, bosan hidup!
Seribu satu alasan lain untuk menghalalkan rasa bosan ini. Apalagi jika harus melakukan dan menghadapi sesuatu yang berulang-ulang. Serasa nonton film slow motion dari awal sampai akhir. Segalanya terasa laaaammmmbaaaat dan laaaaammmmmmaaaaa.Lalu, bagi yang suka melakukan rutinitas? Pernah nggak sih mereka bosan akan susunan kegiatan yang harus dilakukan? Cukup yakin, bahkan bagi si pencinta rutinitas sekalipun (tentunya yang masih normal and not mentally ill) pasti akan 'menyisipkan' sesuatu yang berbeda dalam jadwalnya sendiri sewaktu-waktu jika memerlukan variasi. Walaupun frekuensinya tidak sering tetapi tujuannya memang hanya satu... Supaya tidak bosan.
Sekarang bayangkan, jika anda berada disebuah negara pulau kecil, dengan peraturan 'TIDAK BOLEH' nya lebih banyak dari 'BOLEH' nya, yang tempat hiburannya sangat terbatas dibandingkan dimana kita tinggal dulu.
Banyak orang yang sibuk 'memanjakan' hatinya dengan beli ini dan itu. Kill the time with shopping atau pergi ke tempat yang super hingar bingar. Kata Pak Windede, tempat itu berfungsi sebagai 'toilet jiwa'. ha..ha..ha ! (tawa mbah surip) Tempat membuang rasa kesal, stress dan bosan. Buat saya, bosan adalah pilihan. Dalam suasana yang paling asik sekalipun, kalau orang tersebut tidak memilih untuk mencoba menikmati, maka rasa bosan tidak akan sungkan-sungkan langsung hinggap. Maka bosan lah yang dipilihnya... :)
“Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiran kita sendiri. Kebosanan itu pun berasal dari pikiran kita yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruh anda bermain seperti anak kecil agar pikiran anda menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”
And how about you? How do you kill the boring time when it's coming?

Long Term Education

PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT DITINJAU DALAM PERSPEKTIF ISLAM
( Refleksi Pendidikan, menyambut HUT Guru ke 20 dan HUT PGRI ke 64)
Hadist nabi mengatakan : “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Tuntutlah ilmu sejak buaian sampai lubang kubur. Tiada amalan umat yang lebih utama daripada belajar”.
Berbicara masalah pendidikan seakan tidak habis-habisnya sampai manusia itu sendiri lenyap dari permukaan bumi alias mati, karena manusia wajib menjalani pendidikannya sejak dia dilahirkan sampai dia masuk liang lahad, jasadnya larut ditelan bumi, dan rohnya kembali kepada sang pencipta yaitu Allah SWT. Proses pendidikan terhadap manusia terjadi pertama kali ketika Allah SWT selesai menciptakan Adam Alaihissalam, lalu Allah SWT mengumpulkan tiga golongan mahluk yang diciptakan-Nya untuk diadakan Proses Belajar Mengajar (PBM). Tiga golongan mahluk ciptaan Allah dimaksud yaitu Jin, Malaikat, dan Manusia (Adam Alaihissalam) sebagai "mahasiswa" nya, sedangkan Allah SWT bertindak sebagai "Maha Guru" nya. Setelah selesai PBM maka Allah SWT mengadakan evaluasi kepada seluruh mahasiswa ( jin, malaikat, dan manusia) dengan cara bertanya dan menyuruh menjelaskan seluruh materi pelajaran yang diberikan, dan ternyata Adam lah (dari golongan manusia) yang berhasil menjadi juara dalam ujian tersebut. Kejadian di atas diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya QS.2 (Al-Baqoroh): 30 - 33 sebagai berikut "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah dimuka bumi', Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan kholifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui'.
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" "Mereka menjawab: 'Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengatahui lagi Maha Bijaksana."
"Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini!' Maka setelah diberitahukannya kepada mereka benda-benda itu, Allah berfirman: 'Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Islam mewajibkan pemeluknya untuk belajar dan mengembangkan kemampuan nalarnya secara terus menerus bukan saja terhadap objek-objek di luar dirinya, tetapi juga terhadap kehidupannya sendiri baik sebagai perorangan maupun sebagai suatu komunitas.
Allah Swt berfirman dalam Alquran yang artinya : Allah tidak akan merubah suatu bangsa sehingga mereka sendiri merubah apa yang ada dalam dirinya. Termasuk yang ada di dalam diri manusia adalah hati, fakir, rasa, dan raga. Maka tepat sekali untuk merespon firman Allah di atas, Pemerintah bersama-sama DPR mengamandemen UUD 1945 pada tahun 2000 yaitu bahwa pendidikan adalah hak asasi manusia, dan pada amandemen tahun 2002 terhadap UUD 1945 disebutkan bahwa, tanggung jawab Negara dalam pendidikan diwujudkan dalam APBN sekurang-kurangnya 20 %.
Dalam Pembukaan UUD 1945 tercantum salah satu cita-cita bangsa Indonesia yang luhur, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa atau masyarakat yang cerdas merupakan pilar bagi kejayaan dan kemajuannya. Dengan "mencerdaskan orang banyak" dan "memperbanyak orang cerdas", maka kita bangsa Indonesia akan sanggup menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang. Membangun manusia yang cerdas dan terampil ini merupakan bagian dari hakikat pembangunan nasional, yakni pembangunan, manusia seutuhnya dan manusia Indonesia seluruhnya. Kecerdasan dan keterampilan satu sama lain saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Kalau kecerdasan banyak berhubungan dengan kemampuan pikir dan nalar yang berbasis pada akal atau rasio, maka keterampilan berkaitan dengan skill atau keahlian yang dimiliki oleh seseorang.
Pendidikan sebagaimana pengertiannya yang disebutkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara". Pendidikan yang dimaksud dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas di atas adalah pendidikan yang mengarah pada pembentukan manusia yang berkualitas atau manusia seutuhnya yang lebih dikenal dengan istilah insan kamil. Untuk menuju terciptanya insan kamil di atas, maka pendidikan yang dikembangkan menurut Mendiknas (2006: xix) adalah pendidikan yang memiliki empat segi yaitu : olah kolbu, olah pikir, olah rasa, dan olah raga.
Olah kolbu adalah pendidikan akhlak mulia dan berbudi pekerti luhur sehingga peserta didik memiliki kepribadian yang unggul. Ini adalah aktualisasi dari potensi hati manusia dan merupakan bagian pendidikan yang paling mendasar dan paling penting. Dalam istilah pendidikan, hal itu termasuk merupakan aspek afeksi, yaitu bagaimana membangun manusia berhati baik dan prakarsanya menjadi baik, yang ini semua tergantung atau karena didasarkan pada niat yang baik, sebagaimana bunyi Hadits Nabi: " semua perbuatan (amal) berangkat / tergantung dari kualitas niatnya". Niat yang baik dan positif akan bisa menjadikan manusia bersifat produktif. Inilah yang dalam istilah popular saat ini disebut dengan kecerdasan spiritual. Olah pikir berarti membangun manusia agar memiliki kemandirian serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Olah pikir berorientasi pada pembangunan manusia yang cerdas, kreatif dan inovatif.
Olah rasa bertujuan menghasilkan manusia yang apresiatif, sensitive, serta mampu mengekspresikan keindahan dan kehalusan. Ini sangat penting karena tidak akan ada rasa syukur manakala seseorang tidak memiliki apresiasi terhadap keindahan dan kehalusan. Sedangkan olah raga merupakan proses pembangunan manusia sehingga bisa menjadikan dirinya sebagai penopang bagi berfungsinya hati, otak dan rasa.
Proses pendidikan di atas sejalan dengan QS. Ali Imron (3): 191 yang artinya sebagai berikut " (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’ Itulah cermin manusia seutuhnya yang menggunakan hati dan fikirannya untuk selalu berdzikir kepada Allah, bertafakur mengamati alam semesta, sehingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini bukan untuk main-main, tetapi dengan tujuan yang amat tinggi dan mulia yaitu tujuan kehidupan manusia yang tidak berhenti di dunia ini saja, melainkan harapan dan doa kehidupan yang sejahtera di akhirat kelak. Menurut Irfan Hielmy (1999: 58) kecerdasan dan keterampilan seperti yang disebutkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah Kecerdasan dan keterampilan yang merupakan bagian dari apa yang kita kenal dengan istilah "The Golden H", yaitu head, hand, heart, dan health. Head adalah manusia yang cerdas, pandai dan pintar, hand berarti manusia yang terampil, memiliki skill atau keahlian dan profesionalisme; heart berarti manusia yang mencintai keindahan, memiliki akhlak yang mulia dan sopan santun; dan health berarti manusia yang sadar akan kebersihan, kesehatan dan berdisiplin tinggi. Cerdas (ibid: 59) berarti pandai, tajam pikiran dan sempurna perkembangan akal budinya. Insan yang cerdas dan terampil adalah insan dengan kemampuan akalnya dapat memahami berbagai alam dan sosial, serta memanfaatkannya demi kesejahteraan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Pembangunan pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama masyarakat merupakan upaya pengejewantahan salah satu cita-cita nasional, yaitu menciptakan anak bangsa yang cerdas dan bermartabat. Proses pencerdasan dan pemartabatan bangsa dilakukan tidak lepas dari proses belajar mengajar dan pelatihan baik melalui jalur sekolah maupun jalur luar sekolah. Berbicara pembangunan pendidikan di Indonesia, Syafaruddin (2001:1) menjelaskan, "Pembangunan bidang pendidikan mengemban misi pemerataan pendidikan yang menimbulkan ledakan pendidikan (education explotion). Hal itu memberikan peningkatan mutu sangat signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia (human recourses development) bangsa kita. Strategi pendidikan nasional ketika itu adalah popularisasi pendidikan yang mengakar pada pemerataan pendidikan. Lebih jauh semakin dirasakan bahwa pembangunan sekolah-sekolah memiliki fungsi strategis bagi peningkatan kualitas warga Negara, harkat, dan martabat bangsa Indonesia".
Langkah yang harus dilakukan untuk bisa mencapai derajat manusia Indonesia yang bermartabat, cerdas, dan terampil atau "insan kamil" atau manusia paripurna serta dengan mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri manusia sesuai dengan fitrahnya, baik potensi jasmani (yakni daging, tulang, otot, darah, dan sebaginya) maupun potensi rohani (yaitu akal, akhlak, budi pekerti, kolbu atau bathin, firasat, rasa, karsa, nafsu, dan sebagainya) harus dikembangkan secara seimbang, dijaga, dibina, dan dikembangkan melalui suatu proses pendidikan sejak ia lahir sampai berpulang ke rahmatullah. Wallohua’lam.
Penulis Mahasiswa S2 Program Magister Administrasi Pendidikan UHAMKA Jakarta
Email : rt.semangatselalu@gmail.com