GURU DAN “TOILET JIWA”
(SEBUAH REFLEKSI MENGATASI KEBOSANAN GURU DALAM MENGAJAR)
Oleh : Ragil Tugiman, S.Pd
Guru BPPK Kota Administrasi Jakarta Timur
Penulis dapat di hubungi melalui email :rt.semangatselalu@gmail.com
Siapa pun pasti pernah mengalami rasa bosan dan jenuh dengan pekerjaan, termasuk guru dalam mengajar. Entah mereka sudah bertahun-tahun bekerja menjadi guru atau baru saja masuk ke dalam dunia guru sebagai pendidik dan pengajar.
Ada banyak hal yang menyebabkan guru bosan dengan pekerjaannya sebagai agen perubah manusia (transformation knwoladge dan attitude). Hal ini bisa dikarenakan monoton, lingkungan kerja yang tidak kondusif, rekan kerja yang menyebalkan, materi yang tidak sesuai dengan kompetensinya, beban mata diklat yang banyak, atau ada masalah pribadi. Lalu terpikirlah, betapa menyenangkan kalau bekerja di tempat sekolah lain.
Tapi, berpindah pekerjaan atau sekolah untuk mengajar bukanlah hal yang gampang. Selain itu belum tentu di tempat yang baru kita akan bebas dari persoalan yang menyebabkan kebosanan dan kejenuhan. Bisa jadi keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.
Nah, meski bosan sedang melanda, Anda harus bersyukur bisa memperoleh pekerjaan apalagi ini adalah mendidik seorang anak manusia, yang nantinya akan menjadi tabungan sedekah kebaikan kita di hadapan Allah SWT, jika kita mengajar dengan baik. Tentunya. Apalagi saat ini pemerintah telah menaruh perhatian penuh bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Jadi, lawanlah kebosanan itu dengan kiat-kiat sebagai berikut :
1. Bersikap antusias dalam mengajar.
Bersikap antusias dalam memberikan materi pelajaran di kelas, bisa dilakukan dengan cara kita mengajar "seolah-olah menikmatinya", sehingga pada waktunya kita benar-benar menikmati pekerjaan tersebut. Hanya saja, kadang kita tidak bisa menikmati karena pekerjaan itu memerlukan waktu lama dan jam kerjanya ketat. Ada cara sederhana untuk mengatasinya, semisal dengan tersenyum atau berdiri tegap ketika merasa lelah.
Juga perlu diingat bahwa kita bukanlah robot. Hanya saja, ketika mengajar di depan kelas pusatkan perhatian sepenuhnya pada materi yang sedang kita ajarkan. Istirahat dan liburan memang perlu, tapi jangan dipikir ketika sedang bekerja.
2. Lakukan yang terbaik dalam mengajar.
Meski mengajar pada materi yang tidak menarik, kita harus melakukan yang terbaik. Mengapa? Karena jika kita bekerja asal-asalan maka pekerjaan akan bertumpuk. Kalau sudah begitu, kita semakin terbebani dan ada kemungkinan melakukan kesalahan. Salah berarti kita harus bekerja dua kali atau lebih, sehingga kita menjadi jengkel yang bisa-bisa bermuara ke stres.
Menurut buku The Joy of Working, pekerjaan yang diselesaikan dengan baik akan menghasilkan kepuasan batin. Untuk memperbaiki mutu mengajar, kita bisa menetapkan standar dan tujuan baru agar bisa mengungguli diri kita sendiri.
3. Memperindah pekerjaan kita.
Biasanya pekerjaan yang kita terima dari atasan disertai dengan rangka berisi aturan dan pedoman. Jika kita melakukan pekerjaan tersebut sesuai juklak, maka tidak ada sentuhan pribadi kita pada pekerjaan tersebut. Adanya sentuhan pribadi akan membuat pekerjaan jauh lebih menarik. Karena bersifat pribadi, maka tidak ada aturan baku untuk hal itu. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memperindah sesuatu. Misalnya, agar bisa menikmati pekerjaannya, seorang pelayan senang menghapal pesanan pelanggan tetap, sementara yang seorang mungkin bersikap lebih baik dan sopan.
4. Teruslah belajar.
Menurut buku Tension Turnaround, otak meningkatkan kapasitasnya untuk memproses informasi seiring dengan pertumbuhan kita. Untuk itu kita harus memuaskan keinginan otak kita akan informasi baru dengan mempelajari hal-hal baru. Dengan belajar, guru akan sangat terbantu dalam membuat dan menyajikan serta mempersiapkan materi menjadi lebih menarik dan memuaskan. Hal itu karena belajar bisa meningkatkan rasa percaya diri dan kesanggupan guru serta mempengaruhi sikap secara umum terhadap kehidupan.
Banyak hal yang bisa guru pelajari, terutama yang tidak secara langsung berhubungan dengan lingkup mengajar. Misalnya hubungan antar manusia, tentang peralatan dan perangkat mengajar, cara menulis modul atau utility mengajar yang lebih baik, menguasai kelas yang lebih efektif, atau cara yang lebih baik dalam berurusan dengan atasan baik kepala sekolah ataupun orang tua wali siswa. Untuk mempelajari hal itu mungkin sekolah sebagai tempat kita bekerja harus memiliki anggaran khusus untuk pelatihan semacam itu. Jika tidak, mengapa kita tidak memanfaatkan perpustakaan yang ada di sekolah? Bisa jadi ada buku-buku yang kita butuhkan.
Belajar juga bisa melalui pengalaman orang lain. Kita bisa mengamati rekan sekerja mengenai kekuatan dan kelemahan yang bisa kita jadikan bahan pelajaran. Bahkan dengan belajar dari kesalahan atau keberhasilan kita sendiri, kemudian menganalisisnya sehingga bisa melakukan hal-hal yang tepat di kemudian hari. Dengan melakukan hal ini, kita bisa memperoleh pelajaran yang tidak mungkin bisa kita dapatkan di sekolah ataupun dengan membaca.
Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan dalam memerangi rasa bosan terhadap pekerjaan kita sebagai guru. Singkirkan pikiran negatif yang bisa membuat liburan kita terbebani oleh pekerjaan. Jangan memikirkan kegagalan di masa lalu sembari mencemaskan pendapat orang tentang diri kita. Berikan perhatian penuh pada materi yang kita ajarkan, akan menjadi asyik dengannya, dan melakukan upaya yang terbaik sehingga kita bisa merasakan suatu kegembiraan karena telah menyelesaikan materi pelajaran kita.
Pernahkah anda dilanda suatu rasa bosan yang teramat sangat ?Bosan sama makanan yang itu-itu saja. Bosan pergi ke tempat yang itu-itu saja. Bosan dengan pekerjaan yang begitu-begitu saja dan gaji yang juga segitu-segitu saja. Bosan karena selalu mendengarkan curhatan yang itu-itu saja. Bosan sama pasangan ? Atau paling buruk, bosan hidup!
Seribu satu alasan lain untuk menghalalkan rasa bosan ini. Apalagi jika harus melakukan dan menghadapi sesuatu yang berulang-ulang. Serasa nonton film slow motion dari awal sampai akhir. Segalanya terasa laaaammmmbaaaat dan laaaaammmmmmaaaaa.Lalu, bagi yang suka melakukan rutinitas? Pernah nggak sih mereka bosan akan susunan kegiatan yang harus dilakukan? Cukup yakin, bahkan bagi si pencinta rutinitas sekalipun (tentunya yang masih normal and not mentally ill) pasti akan 'menyisipkan' sesuatu yang berbeda dalam jadwalnya sendiri sewaktu-waktu jika memerlukan variasi. Walaupun frekuensinya tidak sering tetapi tujuannya memang hanya satu... Supaya tidak bosan.
Sekarang bayangkan, jika anda berada disebuah negara pulau kecil, dengan peraturan 'TIDAK BOLEH' nya lebih banyak dari 'BOLEH' nya, yang tempat hiburannya sangat terbatas dibandingkan dimana kita tinggal dulu.
Banyak orang yang sibuk 'memanjakan' hatinya dengan beli ini dan itu. Kill the time with shopping atau pergi ke tempat yang super hingar bingar. Kata Pak Windede, tempat itu berfungsi sebagai 'toilet jiwa'. ha..ha..ha ! (tawa mbah surip) Tempat membuang rasa kesal, stress dan bosan. Buat saya, bosan adalah pilihan. Dalam suasana yang paling asik sekalipun, kalau orang tersebut tidak memilih untuk mencoba menikmati, maka rasa bosan tidak akan sungkan-sungkan langsung hinggap. Maka bosan lah yang dipilihnya... :)
“Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiran kita sendiri. Kebosanan itu pun berasal dari pikiran kita yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruh anda bermain seperti anak kecil agar pikiran anda menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”
And how about you? How do you kill the boring time when it's coming?