Salah satu berita pendek
dalam rubrik "Kilas Iptek" di Kompas, Jumat (23/9), hampir
luput dari pengamatan. Saya melihat ada nama Robin Dunbar di situ, guru besar
antropologi-biologi di Universitas Oxford, Inggris, tokoh yang saya kagumi.
Selain reputasi sebagai antropolog, Dunbar
terkenal di kalangan orang bisnis karena-berdasarkan penelitiannya mengenai
dinamika pergaulan antara manusia dan teori Dunbar's number (angka Dunbar). Menurut teori Dunbar ini,
angka kunci adalah 150, jumlah maksimum untuk pergaulan efektif di antara
manusia di mana pun di dunia yang ingin menjalin hubungan erat.
Sekilas, kita dapat mengerti mengapa penemuan ini sangat
bermanfaat dalam pengelolaan organisasi apa pun. Sebab, dapat diramalkan
kinerja organisasi bakal menurun apabila seandainya jumlah orang di dalam satu
unit kerja melebihi 150 orang. Kalau melebihi 150 orang, semangat kepercayaan
atau ikatan batin, menurut teori, akan makin longgar.
Tampaknya Mark Zuckerberg amat terpengaruh
oleh teori Dunbar ini sehingga ia mengubah penyusunan fisik perusahaan Facebook
supaya sesuai teori. Bukan Zuckerberg saja, melainkan banyak perusahaan sudah
menerapkan teori ini sebagaimana diceritakan Gillian Tett, redaktur di New York
dari surat kabar Inggris, Financial Times, dalam buku The Silo Effect(2015).
Maka, melihat nama Dunbar, saya baca artikel
di Kompas dengan saksama.
Ternyata kali ini Dunbar menguraikan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa
manusia dari zaman purba sampai sekarang sangat terpengaruh cerita fiksi. Memang
kita semua tahu, dari dulu mitos dapat ditemui di peradaban mana pun di dunia,
dan cerita epos memainkan peranan yang maha- penting dalam membentuk corak khas
satu bangsa.
Tambah lagi, Aristoteles pernah menjelaskan
mengenai teori manfaatnya sastra bahwa penonton yang menyaksikan drama
yang menyedihkan, tragedi seperti Oedipus Sang Raja, akan mengalami apa yang dia sebut katarsis;
perasaan lega seakan jiwa kita telah dicuci dan menjadi bersih. Namun, banyak
yang mencemoohkan Aristoteles karena tidak ada bukti nyata untuk membenarkan
teorinya.
Sekarang, 2.500 tahun kemudian, sebagaimana dilaporkan, berkat
penelitian Dunbar bukti itu ada, "menonton film atau drama fiksi dapat
memicu pelepasan endorfin, senyawa kimia yang menimbulkan perasaan senang. dan
meningkatkan ikatan dengan orang sekitar".
Kemudian Dunbar menjelaskan bagaimana dongeng
dan cerita rakyat mewariskan kebajikan atau menanamkan nilai luhur yang lain,
dan betapa penting proses ini untuk "kohesivitas sosial" (kerapatan
anggota komunitas atau pakumbuhan satu sama lain). Apabila kita merenungkan
sebentar saja penemuan Dunbar ini, kita dapat menginsafi pentingnya kini usaha
membentuk karakter bangsa.
Dalam pembahasan mutakhir mengenai pendidikan karakter sudah
banyak dijelaskan mengenai nilai karakter yang dikehendaki: religius, jujur,
dan toleransi. Namun, sedikit sekali ide-ide bagaimana kita dapat mengarah ke
satu sistem pendidikan yang akan berhasil menanam sifat-sifat ini dalam
sanubari anak-anak kita sehingga menjadi sebagian dari darah dagingnya.
Sistem pengasuhan anak
Memang masalahnya sulit dan tak ada kunci mujarab yang dapat
dipakai untuk mengatasinya. Walau bagaimanapun kita mengolah kurikulum,
berusaha mengukur setakat mana nilai karakter sudah terwujud atau-paling
konyol- berusaha menguji karakter bangsa, tetap kita menghadapi kesulitan.
Namun, teori baru Dunbar berdasarkan ilmu biologi menunjukkan
benarnya apa yang dari dulu dikatakan orang humaniora: menghargai sastra asal
diperkenalkan dengan baik kepada murid, dapat mengembangkan kepekaan kepada
orang dan lingkungan sekitar.
Dulu, di pulau-pulau di Indonesia orang cukup menyadari hal
ini dan hidupnya cerita rakyat di tengah masyarakat dapat ditemui dari
Sabang hingga Merauke. Namun, sekarang cerita- cerita semacam ini digeser oleh
teknologi modern. Begitu pula nasib cerita mengenai nabi-nabi dalam agama Islam
dan Kristen, yang dulu sangat terkenal dan menjadi contoh teladan.
Sekarang cerita-cerita itu masih diajarkan di
sekolah, tetapi cerita-cerita itu tidak hidup dan terasa kering. Murid hanya
diminta menghafal cerita, bukan menyerap nilai-nilai luhur yang terkandung di
situ. Sampai di rumah, cerita itu tidak diingat lagi karena tak diperkuat
cerita serupa dari orangtua; cepat kalah oleh cerita yang mereka saksikan di
televisi atau di games, di mana bukan kebajikan
yang diutamakan, melainkan cara untuk menghancurkan lawan.
Melihat keadaan demikian, kita harus mengakui,
menghidupkan kembali manfaatnya cerita dan sastra dalam rangka membentuk
karakter di Indonesia merupakan uphill struggle, mendaki gunung tinggi. Namun, sudah ada tanda
para ahli pendidikan mengerti apa yang perlu dikerjakan. Usaha mendorong
orangtua untuk bercerita kepada anaknya menjelang tidur, misalnya, merupakan
satu langkah yang sangat menjanjikan.
Namun, masih banyak yang patut dipikirkan. Bagaimana,
umpamanya, guru-guru di sekolah di mata pelajaran apa pun dapat menggunakan
kreativitas dan pengalaman sendiri untuk menanamkan kebajikan lewat cerita,
tanpa memberi kesan berkhotbah. Bagaimana kelanjutan gerakan, yang pernah
terdengar beberapa tahun silam, untuk memperkenalkan liberal arts sebagai mata kuliah wajib di semua
perguruan tinggi?
Dan, akhirnya, bagaimana dapat kita menyingkir
dampak korosif dari televisi dan games, serta mengembalikan ke orangtua peluang untuk mengasuh
anak dengan semestinya lewat usaha bergaul, bertutur, dan bercerita kepada
mereka?
CONRAD WILLIAM WATSON
PROFESSOR SCHOOL OF BUSINESS AND
MANAGEMENT, ITB; PROFESOR (EMIRITUS) SCHOOL OF ANTHROPOLOGY AND CONSERVATION,
UNIVERSITY OF KENT, UK
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Oktober
2016, di halaman 7 dengan judul "Cerita Fiksi dan Pendidikan
Karakter"
